Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KOLEKSI MUSEUM KERATON SUMENEP: Sejarah, Nilai Penting, dan Pemanfaatan Warisan Budaya


Sejarah tidak selalu ditulis dalam buku. Kadang, ia diam dalam sebuah benda.

Di Museum Keraton Sumenep, masa lalu hadir melalui benda-benda yang pernah menjadi bagian dari kehidupan keraton dan masyarakat: Mushaf Al-Qur’an, baju zirah, peralatan jamu, arca, koin, gelang, keramik, perangkat upacara tradisional, sarana pengadilan, perabot, Kereta My Lord, hingga perlengkapan berhias. Setiap benda bukan sekadar peninggalan, tetapi menyimpan jejak tentang kehidupan, kepercayaan, teknologi, hubungan sosial, seni, serta perubahan zaman di Sumenep.

KOLEKSI MUSEUM KERATON SUMENEP: SEJARAH, NILAI PENTING, DAN PEMANFAATAN WARISAN BUDAYA membawa pembaca memasuki lebih dekat dunia benda-benda bersejarah tersebut. Kajian di dalamnya tidak berhenti pada bentuk dan kondisi fisik koleksi, tetapi menelusuri konteks sejarah, fungsi, makna, serta nilai penting yang terkandung di baliknya. Proses kajian dilakukan melalui observasi, identifikasi, wawancara, diskusi terpumpun, dokumentasi, dan studi pustaka.

Salah satu daya tariknya adalah kisah Mushaf Al-Qur’an koleksi Museum Keraton Sumenep, yang pada bagian awal naskah memuat penanda tahun 1216 Hijriah (1801 M), serta Kereta My Lord (Melor) yang dicatat sebagai hadiah pemerintah Inggris kepada Sultan Abdurrahman Pakunataningrat.

Buku ini pada akhirnya mengajak kita melihat warisan budaya bukan sebagai benda yang selesai ketika dipajang di balik kaca. Ia adalah sumber pengetahuan, bahan pendidikan, objek penelitian, bagian dari identitas budaya, dan modal penting untuk pelestarian serta pemanfaatan warisan budaya Sumenep secara berkelanjutan.

Karena sebuah benda yang diselamatkan adalah sebuah ingatan yang tidak dibiarkan hilang.

Posting Komentar untuk "KOLEKSI MUSEUM KERATON SUMENEP: Sejarah, Nilai Penting, dan Pemanfaatan Warisan Budaya"